Haji & Umrah | -

Sabtu, 10 April 2010 - 22:28:32 WIB
Industri, Dakwah, dan “Ustadzpreneur”
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel Islami - Dibaca: 3474 kali

Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan adanya pemberitaan di berbagai media, terkait perseteruan seorang da i dengan sebuah organisasi di laur negeri yang berencana mengundangnya. Titik persoalannya pun tak tanggung-tanggung, berpangkal pada masalah uang. Sesuatu yang biasa untuk jasa profesional, namun sangat aneh jika dihadapkan pada aktivitas dakwah. Sang da i dikabarkan mematok tarif sebagai kompensasi dari ceramahnya, bahkan menaikkannya dari kesepakatan awal ditambah lagi dengan berbagai permintaan tambahan lainnya.

Hal ini tentu memunculkan berbagai reaksi, khususnya dari kalangan ulama. Karena dakwah adalah aktivitas yang mulia. Pengembannya pun adalah orang-orang pilihan yang merupakan pewaris para Nabi. Tentu ini adalah amanah besar yang tidak boleh dipandang remeh, apalagi dibuat melenceng dari apa yang sudah digariskan oleh Nabi dan para salafus shalih. Gelar (sebutan) yang disematkan pun bukanlah sesuatu yang ringan dan bebas dipakai oleh siapa saja. Seperti ustadz misalnya, di bagian timur tengah adalah gelar yang disandang oleh orang yang setingkat guru besar atau profesor yang telah diakui tingkat keilmuannya.

Muncul pertanyaan, bagaimana Islam memandang hal semacam ini. Apakah boleh seorang da i memasang tarif ketika berdakwah atau apakah ustadz itu merupakan profesi sehingga bisa menjadi jasa profesional dalam mengais rezeki alias  ustadzpreneur . Bukankah ada juga trainer, creativepreneur, writerpreneur, konsultan, guru, dan lainnya yang hampir mirip, sehingga memungkinkan adanya profesi sebagai ustadzpreneur. Ini merupakan berbagai pertanyaan yang wajar, akibat kurangnya pengetahuan ditambah lagi dengan pengaburan yang dilakukan oleh segelintir oknum.

Ustadzpreneur yang penulis maksudkan di sini adalah seorang pendakwah yang menjadikan aktivitas dakwah sebagai profesi dalam mata pencahariannya. Dari situ jasanya harus dihargai secara profesional layaknya motivator, business coach, artis, dan lainnya, sehingga  wajar  jika memiliki manajemen profesional. Tak jarang berbagai undangan pun dibatalkan, karena persoalan negosiasi biaya yang tidak menemui titik temu. Hal itu sesuai permintaan sang ustadzpreneur sebagaimana kasus yang mewarnai media sekarang ini.

Sebenarnya fenomena ustadzpreneur ini muncul karena tak lepas dari kepentingan industri bisnis, khususnya media pertelevisian. Dakwah dilihat sebagai salah satu bagian yang menarik untuk menaikkan rating. Dampaknya, peluang untuk menambah pundi-pundi pemasukan media pun akan mengalir deras. Hal ini karena acara-acara ceramah terbukti banyak peminatnya. Juga menunjukkan semangat keingintahuan tentang agama yang meningkat dari umat. Tak ayal, industri pun merambah dakwah sebagai sasarannya.

Di sisi lain media juga memiliki kepentingan untuk menjaga agar tidak terjadi kemungkinan buruk, sehingga da i – da i yang diincar pun harus memiliki beberapa kriteria khusus sesuai keinginan media. Antara lain, harus bisa  melawak , penampilan harus sesuai standar media, sebisa mungkin jangan ada pernyataan yang bersifat nahyi munkar, dan lainnya. Kompensasinya adalah kontrak dengan bayaran yang fantastis. Tentulah ini merupakan tawaran yang menggiurkan.

Akhirnya akan terbentuk mental materialis dan hedonis pada diri ustadzpreneur, bahkan merasa layaknya artis atau selebritis. Maka berbagai sebutan pun muncul, mulai dari ustadz seleb, da i matre, ustadz komersil, dan sebagainya. Akhirnya, dakwah yang memiliki substansi menyeru kepada kebaikan dan amar makruf – nahyi munkar pun jadi ternodai oleh berbagai kepentingan dan pelencengan. Bahkan kolaborasi (media dan ustadzpreneur) ini berimbas pada sebuah gengsi. Semakin mahal tarif profesional sang ustadzpreneur, menjadi semakin tinggi kelas dan gengsinya, semakin naik media yang mengusungnya. Maka dakwah akhirnya dikomersilkan dan ustadzpreneur tenggelam dalam kenikmatan dunia. Dakwahnya harus dengan mematok tarif tinggi yang kadang tak mampu dijangkau oleh jama ah.

Sikap paranoid yang cenderung terpancar dari virus popularitas yang tak terkendali ini, tentu sangat berbahaya karena akan mereduksi esensi dakwah yang sebenarnya. Akibatnya umat akan kesulitan mendapatkan pencerahan atas tsaqofah (pemahaman) Islam. Wawasannya akan mengalami stagnasi yang menyebabkan kemunduran bagi umat-yang disebut di dalam Alqur an sebagai Khairu Ummah ini-. Bukan tak boleh popular, karena kepopularan sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menebar kebaikan sebanyak-banyaknya bagi umat karena ia telah dikenal luas.

Dakwah haruslah ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, karena Allah SWT yang akan membayarnya. Tidak boleh menetapkan tarif di awal, apalagi sampai ada DP nya. Namun jika diberikan setelahnya, maka boleh diterima. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa,

“Bacalah Alqur an, dan jangan terlalu berlebihan, jangan terlalu lalai, jangan makan upah mengajar Alqur an, dan memperbanyak harta melalui mengajar Alqur an” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Hajar)

Jelaslah bahwa kita harus menghidupkan agama dan bukan hidup dari agama. Menghidupkan dakwah, bukan hidup dari dakwah. Jika dakwah dijadikan profesi, maka telah melenceng dari apa yang dicontohkan Rasulullah. Beliau SAW bersama para sahabat yang merupakan rujukan utama umat Islam, telah mencontohkan bahwa dakwah bukanlah sarana untuk mencari nafkah. Justru kitalah yang seharusnya mengeluarkan uang (infaq, dan sejenisnya) untuk memperkuat dakwah, sebagaimana generasi awal Islam telah mencontohkannya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan tegas mengatakan bahwa seseorang tidak bisa dikatakan ustadz jika memasang tarif saat berdakwah. “Kalau pasang tarif itu bukan ustadz, tetapi artis,” kata Ketua MUI, KH. Ma ruf Amien kepada itoday, Senin (19/08).

Ironisnya, mindset ini berbeda dengan yang dimiliki para ustadzpreneur. Bukan hanya dakwah saja yang dikomersilkan, melainkan juga perangai buruk, akhlak berdakwah yang tak sepantasnya, serta khasanah tsaqofah Islam yang rendah. Hal ini mengakibatkan mutu materi yang tidak berbobot karena hanya mementingkan humor semata. Dari sini terlihat bahwa para penceramah tersebut terlihat seperti seorang komedian ataupun artis bahkan musisi yang tampil hanya sesuai “permintaan”.

Perlu disadari bahwa aktivitas dakwah adalah murni ibadah. Berbeda dengan bekerja, seperti menjadi guru, trainer, dan sebagainya, yang telah jelas akadnya sebagai ijaroh (kontrak kerja/sewa jasa). Sementara dakwah, tidak termasuk kategori demikian. Dakwah adalah kewajiban bagi muslim yang beriman.

Bisa dianalogikan, dakwah profesional itu performanya founder/owner, akadnya volunteer. Maksudnya dalam berdakwah kita harus mengeluarkan seluruh potensi dan kemampuan terbaik kita sekalipun harus berkorban harta, waktu, pikiran, bahkan nyawa sekalipun. Layaknya seorang pendiri/pemilik sebuah perusahaan yang berjuang habis-habisan untuk membangun dan mengembangkan perusahaannya. Sementara akadnya harus sukarela, dalam arti tidak ada pembicaraan untuk menetapkan ataupun mengharapkan tarif ketika diminta untuk berdakwah. Karena dakwah dilandasi dengan keikhlasan, tanpa mengharapkan imbalan materi duniawi, namun jika diberi maka tidak masalah untuk menerimanya.




comments powered by Disqus

Agenda Umrah & Haji

Polling

Statistik User

Kurs BCA Hari Ini

Pencarian

Sekilas Info

Download

Advertising

 

Copyright © 2014 | Ibadahumrah.com | All rights reserved.