Haji & Umrah | -

Kamis, 10 Februari 2011 - 23:22:35 WIB
Astaghfirullah! Istri Djalaludin Rahmat Terbitkan Buku "Kesesatan" MUI
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel Islami - Dibaca: 1481 kali

Tak terima dengan penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat terkait kesesatan Syiah melalui buku yang judul “Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”, Istri dedengkot Syiah Indonesia, Djalaluddin Rahmat, Emilia Renita Az. Emilia mengeluaran buku tandingan yang berisikan “kesesatan” MUI versi syiah.

Penulis buku yang merupakan istri Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) ini mengakui bahwa bukunya yang berjudul “Apakah MUI Sesat” (Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat) merupakan jawaban dari buku yang telah dikeluarkan Tim MUI Pusat yang berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”.

Menurut Emilia, selama ini MUI dinilai secara seenaknya menyesatkan orang dengan dampak yang tidak sedikit.  Sementara tak ada satupun orang/lembaga yang berani mengkritisi.

“Sekali ini MUI dilawan wanita Syiah, “ ujarnya kepada hidayatullah.com melalui sambungan telepon, Ahad (02/02/2014)

Emilia mengatakan, buku ini dinilai titik tolak kebangkitan Syiah yang dinilai tertindas.

“Gak bisa orang dikafirin, dan mereka merasakan bagaimana dikafirkan. Yang mengkafirkan mereka itu orang Syiah, perempuan,“ tambahnya.

Ia menilai, melakukan itu karena selama ini fatwa-fatwa MUI tidak ada yang membantah dan seluruh fatwanya ditaati.

Saat ditanyakan bahwa hujjah/fatwa/keputusan MUI Pusat adalah keputusan institusi para ulama yang membawahi semua Ormas-ormas Ahlus Sunnah, maka seharusnya hujjah/fatwa dibalas dengan intitusi yang kedudukannya serupa, misalnya fatwa resmi Syiah, bukan hujjah kadernya, yang mencerminkan perwakilan pribadi.

“Kalau kita pakai hujjah Syiah, kita tidak ketemu malahan,”ujarnya pendek.

Habib Achmad Zein: Buku “Apakah MUI Sesat” tidak selevel

Sementara itu, Habib Achmad Zein Al-Kaff, yang tercatat dalam jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengatakan belum sempat membaca buku tersebut. Namun menurutnya, bukan levelnya seseorang berkapasitas pribadi mengkritisi fatwa/hujjah yang keluar dari institusi MUI.

“Saya belum baca buku tersebut. Tapi sangat mengherankan siapa dia? Dan siapa MUI yang dia kritik. Sebab MUI itu mewakili Ormas Islam di Indonesia. Memang sekarang ini zamannya orang tidak tau diri,” ujar Pengurus MUI Jawa Timur ini dalam jawab pendek saat perjalanan menuju Jawa Tengah.

Sedang peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) – Surabaya Bahrul Ulum mengatakan, setiap persoalan memiliki kewenangan dan otoritas. Apalagi menyangkut ilmu dan agama. Jika tidak, semuanya akan rusak.

“Apapaun masalahnya harus disandarkan pada kewenangan dan otoritas. Jika tidak ilmu akan menjadi rusak,” ujarnya. Ia menilai MUI memiliki kewenangan mengeluarkan fatwa dan lembaga ini juga memiliki otoritas.

Ia mencontohkan dalam ilmu kedokteran. Jika semua orang tidak bekompeten mengomentari ilmu kedokteran, rusaklah ilmu kedokteran. Kalau sudah begitu, untuk apa didirikan Fakultas Ilmu Kedokteran jika semua orang yang tidak berkompeten bisa berkomentar?

Lagi pula menurut Bahrul, antara Sunni dan Syiah mememili perbedaan secara prinsip, yakni secara aqidah. Sedang menyangkut kesesatan Syiah sikap para ulama tidak ada perbedaan.




comments powered by Disqus

Agenda Umrah & Haji

Polling

Statistik User

Kurs BCA Hari Ini

Pencarian

Sekilas Info

Download

Advertising

 

Copyright © 2014 | Ibadahumrah.com | All rights reserved.